Dari Desa Penghasil Gula Merah, Agustia Raih Mimpi Jadi Psikolog Muslimah
AOW

Dari Desa Penghasil Gula Merah, Agustia Raih Mimpi Jadi Psikolog Muslimah

Admin
13 Juni 2025

Di sebuah desa tenang di Sinjai, Sulawesi Selatan, setiap hari terdengar denting suara alat masak dari rumah-rumah pengrajin gula merah. Di antara aroma khas gula yang direbus dan semangat petani yang tak pernah padam, tumbuhlah seorang gadis bernama Agustia—putri dari keluarga sederhana, di mana ayah dan ibu bekerja sebagai petani sekaligus pembuat gula merah.

Namun, dari kehidupan yang tampak biasa itu, lahir tekad yang luar biasa: Agustia ingin kuliah.

Di penghujung kelas 11 SMA, Agustia mulai cemas memikirkan masa depan. Keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya tak yakin bisa melanjutkan kuliah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Beasiswa YES —sebuah program pendampingan pendidikan untuk siswa dhuafa berprestasi.

Agustia jatuh hati bukan hanya karena beasiswa ini memberi dukungan finansial dan bimbingan masuk PTN, tapi juga karena ada pembinaan Qur’an dan akhlak. Sejak awal, ia memang ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an dan mencari guru yang bisa membimbingnya dalam hafalan dan adab.

“Saya merasa Beasiswa YES bukan hanya tentang kuliah. Tapi tentang menjadi pribadi yang utuh—berilmu dan berakhlak.”

Selama menjadi Penerima Manfaat YES, Agustia tidak hanya dibimbing untuk mempersiapkan seleksi masuk perguruan tinggi. Ia juga diajak untuk merancang life-plan, memetakan karier, dan bahkan diajarkan kemampuan public speaking—hal yang sebelumnya sangat ia takuti.

Sedikit demi sedikit, ia tumbuh. Agustia jadi percaya diri bicara di depan umum. Ia juga makin aktif di sekolah, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua OSIS.

“Dulu saya ragu untuk bicara di depan kelas. Tapi di YES, saya belajar bahwa semua bisa dilatih. Termasuk keberanian.”

Agustia memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah. Baginya, ini bukan sekadar pilihan akademik—tapi jalan untuk memahami manusia, dan lebih dalam lagi, memahami dirinya sendiri.

Ia belajar dengan keras, menjaga nilai akademik dan tetap aktif di berbagai kegiatan. Dan pada tahun itu juga, ia lolos masuk Universitas Negeri Makassar lewat jalur SNBP.

“Psikologi mengajarkan saya bahwa setiap orang punya cerita, punya luka, dan punya potensi untuk tumbuh.”

Selama perjalanan ini, Agustia tak pernah lupa satu hal: doa dan ridho dari kedua orang tua.Ia tahu, kerja kerasnya tak akan berarti tanpa restu mereka. Setiap langkah ia iringi dengan doa, dan setiap prestasi ia persembahkan untuk orang tua yang setiap hari menjerang gula merah di dapur sederhana mereka.

Kini, Agustia menjalani kuliah dengan semangat baru. Ia tak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tapi juga berharap kelak bisa kembali ke masyarakat, membantu orang lain memahami kesehatan mental dan tumbuh sebagai pribadi yang kuat secara spiritual dan emosional.

“Angin tak berhembus untuk menggoyahkan pepohonan, tapi untuk menguji kekuatan akarnya.” — Sayyidina Ali bin Abi Thalib

YES telah menjadi akar kuat dalam perjalanan Agustia. Dari sebuah desa penghasil gula merah, ia kini melangkah menuju mimpi—dengan hati yang manis, tekad yang kuat, dan akhlak yang tumbuh bersama ilmu.